Halaman 1 — Bukan Salah Alam Tapi Hilangnya Ruang Hijau
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Kota semakin panas. Banjir makin sering. Banyak yang langsung menyalahkan cuaca. Tapi kalau dilihat lebih dalam, masalahnya bukan sekadar alam. Masalah utamanya adalah hilangnya ruang hijau.
Ketika pembangunan terus berjalan tanpa memperhatikan kewajiban RTH privat 10%, maka keseimbangan kota mulai rusak. Tanah yang seharusnya menyerap air berubah menjadi beton. Udara yang seharusnya sejuk berubah menjadi panas. Dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.
Masalahnya, banyak yang tidak mengaitkan dua hal ini. Panas dianggap cuaca. Banjir dianggap takdir. Padahal dalam banyak kasus, ini adalah hasil dari keputusan pembangunan yang tidak patuh.
Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās.
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan bukan selalu karena alam, tetapi karena tindakan manusia sendiri. Dalam konteks kota, hilangnya ruang hijau adalah salah satu bentuk nyata dari hal tersebut.
Maka penting untuk mulai melihat masalah ini secara utuh. Kota bukan hanya kumpulan bangunan, tetapi sistem yang harus dijaga keseimbangannya. Dan RTH adalah bagian penting dari sistem itu.
Halaman berikut (2/10): “Bagaimana RTH Mempengaruhi Suhu dan Banjir di Kota?”
Kita akan bongkar hubungan langsung antara ruang hijau dan kondisi kota.