Halaman 1 — Batas Kuasa Manusia Awal dari Ketenangan Sejati
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Dalam pendekatan penelitian psikologi kognitif, salah satu sumber kecemasan terbesar manusia adalah apa yang disebut sebagai illusion of control — ilusi bahwa kita mampu mengendalikan lebih banyak hal daripada yang sebenarnya bisa kita kendalikan. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam eksperimen laboratorium, tetapi juga dalam realitas sosial sehari-hari. Seseorang ingin mengendalikan opini orang lain tentang dirinya. Seseorang ingin memastikan masa depannya berjalan sesuai rencana lima tahun. Seseorang ingin semua risiko hilang sebelum ia melangkah. Dan ketika realitas tidak tunduk pada keinginan, lahirlah frustrasi, kemarahan, bahkan keputusasaan.
Jika ditelusuri melalui metode kajian pustaka dalam literatur keislaman klasik, persoalan ini sebenarnya telah lama dibahas dalam konsep qadar dan ikhtiar. Ulama menegaskan bahwa manusia memiliki wilayah usaha, tetapi tidak memiliki kuasa absolut atas hasil. Ketika wilayah ini tercampur — ketika manusia merasa harus menguasai hasil, bukan sekadar mengoptimalkan usaha — maka batinnya mulai goyah. Ia lelah bukan karena bekerja keras, tetapi karena memikul beban yang bukan haknya.
Al-Qur’an secara eksplisit mengingatkan batas tersebut. Allah berfirman:
Wa mā tasyā’ūna illā ay yasyā’allāh, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā.
Artinya: “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insān [76]: 30)
Ayat ini bukan untuk melemahkan semangat, tetapi untuk menyeimbangkan perspektif. Dalam kerangka tauhid, manusia diperintahkan untuk berusaha secara maksimal, namun dilarang mengklaim kendali total. Justru ketika seseorang menyadari bahwa hasil bukan wilayahnya, ia akan bekerja dengan lebih jernih dan lebih fokus. Ia tidak lagi dikuasai ketakutan akan kegagalan, karena ia paham bahwa kegagalan pun berada dalam sistem hikmah Ilahi.
Rasulullah memberikan arahan yang sangat rasional dan praktis:
Iḥriṣ ‘alā mā yanfa‘uka, wasta‘in billāh, wa lā ta‘jaz.
Artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan struktur yang jelas: fokus pada yang bermanfaat, bersandar kepada Allah, dan jangan melemahkan diri. Tidak ada perintah untuk mengendalikan opini orang lain. Tidak ada perintah untuk memastikan masa depan tanpa risiko. Tidak ada perintah untuk mengatur segala kemungkinan agar sesuai keinginan pribadi. Yang diperintahkan hanyalah usaha yang optimal dan sikap mental yang kuat.
Maka, “Lepaskan yang Tak Bisa Dikontrol” bukanlah slogan pasif. Ia adalah disiplin mental. Ia adalah bentuk kedewasaan intelektual dan spiritual. Ketika seseorang berhenti memaksa dunia agar sesuai ekspektasinya, justru di situlah ia menemukan ketenangan. Karena ternyata, yang membuat kita lelah bukan realitas — tetapi perlawanan batin terhadap realitas itu sendiri.
Halaman berikut (2/10): “Ilusi Kontrol dalam Perspektif Psikologi dan Tauhid.”
Kita akan mengurai secara ilmiah mengapa manusia cenderung memegang kendali berlebihan — dan bagaimana tauhid menjadi fondasi pembebasan batin.