LSM dan Kebenaran yang Tak Pernah Nyaman

Halaman 1 — Suara yang Mengusik Di Tengah Kenyamanan Kekuasaan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Kebenaran hampir tidak pernah datang dengan wajah yang nyaman. Ia tidak hadir sebagai tepuk tangan, melainkan sebagai kegelisahan. Ia tidak lahir dari ruang rapat yang sejuk, tetapi dari ruang publik yang panas oleh perdebatan. Dalam dinamika demokrasi modern, salah satu aktor yang paling sering membawa ketidaknyamanan itu adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sebagian menuduhnya provokator. Sebagian lain menyebutnya pengawas moral. Namun satu hal yang pasti: kehadirannya jarang membuat kekuasaan merasa tenang.

Artikel ini disusun menggunakan pendekatan penelitian pustaka dengan menelaah literatur hukum tata negara, teori masyarakat sipil, serta laporan advokasi publik dalam dua dekade terakhir. Di samping itu, refleksi lapangan terhadap berbagai kasus konflik kebijakan daerah turut menjadi bahan analisis. Fokus utama tulisan ini adalah memahami mengapa kebenaran yang dibawa LSM sering dianggap mengganggu stabilitas, padahal secara normatif ia merupakan bagian dari sistem demokrasi itu sendiri.

Dalam teori demokrasi deliberatif, masyarakat sipil berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan. Ia menjadi ruang kritik ketika lembaga formal cenderung kompromistis. Namun secara psikologis dan politis, kritik hampir selalu ditafsirkan sebagai serangan. Di sinilah letak paradoksnya: semakin penting peran kontrol sosial, semakin tidak nyaman ia dirasakan oleh pihak yang dikontrol.

Al-Qur’an menggambarkan karakter kebenaran yang secara alami berbenturan dengan kebatilan:

Bal naqdzifu bil-ḥaqqi ‘alal-bāṭili fayadmaghuhu fa idzā huwa zāhiq.

Artinya: “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran bukan sekadar opini alternatif, melainkan energi korektif. Ia bekerja dengan cara membongkar ilusi dan membuka luka sistem yang selama ini disembunyikan. Maka ketika LSM mengangkat isu korupsi, pelanggaran HAM, atau kerusakan lingkungan, ketidaknyamanan yang muncul bukanlah bukti kesalahan mereka, melainkan indikasi bahwa ada struktur yang terguncang.

Pertanyaannya bukan lagi apakah LSM mengganggu, tetapi mengapa kebenaran selalu terasa seperti gangguan. Apakah karena ia membahayakan stabilitas, atau karena ia membongkar zona nyaman? Di titik inilah diskusi menjadi relevan. Sebab demokrasi tanpa kritik hanya akan melahirkan formalitas prosedural tanpa substansi keadilan.

🌿 Jika kebenaran terasa mengganggu, mungkin yang terganggu bukanlah ketertiban — melainkan kenyamanan yang selama ini kita anggap normal.

Halaman berikut (2/10): “Jejak Historis LSM dalam Perubahan Sosial.”