LSM dan Seni Bertahan di Tengah Tekanan Kekuasaan

Halaman 1 — Tekanan dan Keteguhan Membaca Realitas Kekuasaan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Setiap kekuasaan memiliki naluri mempertahankan dirinya. Dalam sejarah politik, tekanan terhadap kelompok pengawas hampir selalu hadir ketika suara kritik mulai terdengar. LSM, sebagai bagian dari masyarakat sipil, sering berada dalam posisi yang tidak nyaman: berada cukup dekat dengan rakyat untuk memahami keluhan mereka, namun cukup jauh dari struktur negara untuk tidak memiliki otoritas formal. Di ruang antara itulah seni bertahan diuji.

Tekanan kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk represif yang terang-terangan. Ia dapat muncul dalam bentuk delegitimasi, pembatasan akses informasi, hingga framing negatif di ruang publik. Dalam pendekatan studi kebijakan publik dan teori kekuasaan, situasi ini disebut sebagai contestation of narrative—perebutan wacana antara aktor negara dan aktor masyarakat sipil. Ketika wacana dikuasai sepenuhnya oleh otoritas, kritik menjadi sulit bertahan.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa keberadaan pengawas independen justru menjadi indikator kesehatan demokrasi. Tanpa kontrol sosial, kekuasaan cenderung menguat tanpa keseimbangan. Dalam konteks ini, LSM tidak sekadar organisasi, melainkan mekanisme koreksi yang hidup. Mereka hadir untuk mengingatkan bahwa kebijakan publik harus tetap berpijak pada kepentingan warga.

Yā ayyuhalladzīna āmanū kūnū qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā’a lillāh.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.” (QS. An-Nisā’ [4]: 135)

Ayat tersebut mengandung prinsip universal tentang keberanian berdiri dalam keadilan, bahkan ketika tekanan hadir. Dalam konteks advokasi sosial, menjadi saksi berarti menghadirkan data, fakta, dan analisis yang jujur, sekalipun berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.

Seni bertahan bukan berarti konfrontasi tanpa strategi. Ia adalah kemampuan membaca situasi secara rasional, memilih momentum yang tepat, serta menjaga integritas organisasi. Seni ini menggabungkan keteguhan moral dan kecermatan taktis. Tanpa strategi, keberanian dapat berubah menjadi kerapuhan; tanpa keberanian, strategi kehilangan makna.

Pertanyaannya bukan lagi apakah tekanan itu ada, melainkan bagaimana meresponsnya. Di sinilah artikel ini akan menguraikan secara ilmiah bagaimana LSM dapat tetap berdiri—melalui pendekatan berbasis data, etika komunikasi, penguatan jaringan, dan ketahanan organisasi—di tengah dinamika kekuasaan yang kompleks.


🌿 Keteguhan bukan sekadar keberanian bersuara, tetapi kemampuan bertahan dengan integritas.

Halaman berikut (2/10): “Membaca Pola Tekanan Kekuasaan.”
Kita akan mengkaji bentuk-bentuk tekanan struktural yang kerap dihadapi organisasi masyarakat sipil.