Halaman 1 — Di Balik Sorotan yang Redup Makna Kerja Sunyi dalam Demokrasi
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Tidak semua kerja besar lahir dari panggung yang terang. Tidak semua perubahan sosial muncul dari ruang rapat yang disorot kamera. Di banyak sudut negeri, ada kerja-kerja sunyi yang berlangsung tanpa tepuk tangan, tanpa headline media, bahkan tanpa pengakuan resmi. Kerja itu dilakukan oleh orang-orang yang memilih berada di balik layar— mendampingi korban, mengumpulkan data lapangan, mengadvokasi kebijakan, dan memastikan suara kecil tetap terdengar.
LSM sering kali berada dalam posisi ini: bekerja tanpa sorotan, hadir di tengah krisis, tetapi jarang disebut ketika keadaan membaik. Mereka menjadi penghubung antara kebijakan dan realitas sosial. Namun dalam dinamika politik, kontribusi tersebut tidak selalu terlihat. Bahkan, dalam situasi tertentu, mereka justru dipertanyakan, dicurigai, atau diabaikan.
Dalam perspektif penelitian sosial, kerja advokasi dan pendampingan komunitas membutuhkan konsistensi jangka panjang. Perubahan kebijakan tidak terjadi dalam satu malam. Ia membutuhkan riset lapangan, dokumentasi kasus, dialog dengan pemangku kepentingan, dan edukasi publik yang berkelanjutan. Proses ini sunyi, melelahkan, dan jarang terlihat di ruang publik.
Dalam etika Islam, kerja yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih memiliki nilai tinggi:
Innamā nuṭ‘imukum liwajhillāhi lā nurīdu minkum jazā’an wa lā syukūrā.
Artinya: “Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insān [76]: 9)
Ayat ini menggambarkan nilai kerja yang tidak bergantung pada pengakuan. Dalam konteks demokrasi, banyak aktivitas LSM yang bergerak dalam semangat serupa— membantu kelompok rentan, mengawal keadilan, dan memperjuangkan transparansi, meskipun tidak selalu mendapat apresiasi.
Namun kerja sunyi bukan berarti kerja tanpa dampak. Justru karena tidak selalu berada di garis depan sorotan, ia memiliki kebebasan untuk fokus pada substansi. Di balik laporan kebijakan yang diperbaiki, di balik keputusan pengadilan yang lebih adil, sering kali ada proses panjang yang dimulai dari kerja dokumentasi dan advokasi yang tekun.
Pertanyaannya adalah: mengapa kerja sunyi ini jarang dihargai? Apakah karena ia tidak spektakuler? Ataukah karena kontribusinya sulit diukur dalam angka-angka popularitas? Dalam masyarakat yang cenderung mengutamakan visibilitas, kerja yang tidak viral sering kali luput dari perhatian.
Artikel ini akan mengkaji peran LSM sebagai aktor kerja sunyi dalam demokrasi, menelusuri kontribusi yang sering tersembunyi, serta memahami mengapa penghargaan terhadap kerja tersebut belum sebanding dengan dampaknya. Sebab dalam sistem demokrasi, tidak semua pilar berdiri di tengah cahaya— beberapa justru menopang bangunan dari ruang yang gelap.
Halaman berikut (2/10):
“Kerja Lapangan: Fondasi yang Jarang Terlihat.”
Kita akan menelusuri bagaimana aktivitas advokasi dan riset menjadi dasar perubahan kebijakan.