Melipat Payung Ego: Berani Basah Kuyup di Bawah Kehendak Tuhan

Halaman 1 — Saat Ego Dilipat Memulai Keberanian untuk Tunduk


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Kita sering mengira bahwa yang melindungi kita dari rasa sakit adalah kekuatan. Kita membangun citra, mempertahankan gengsi, mengumpulkan pembenaran, dan menyebutnya harga diri. Padahal diam-diam, semua itu hanyalah payung ego — alat perlindungan yang kita buka setiap kali hujan takdir mulai turun.

Artikel ini menggunakan pendekatan reflektif berbasis kajian pustaka tentang konsep ego dalam psikologi dan konsep nafs dalam Islam. Dalam perspektif psikologi, ego berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Namun dalam perspektif spiritual, ego yang tidak terkelola justru menjadi penghalang ketundukan. Ia ingin mengontrol, mengatur, bahkan menegosiasikan kehendak Tuhan agar sesuai dengan keinginannya.

Masalahnya, kehendak Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita sukai. Ia bisa berupa kehilangan, kegagalan, atau perubahan arah yang tidak kita rencanakan. Di titik inilah ego mulai membuka payungnya. Ia menolak basah. Ia tidak mau terlihat lemah. Ia tidak mau mengakui bahwa rencana Tuhan lebih luas dari rencana pribadi.

Wa mā tasya’ūna illā an yasya’allāhu rabbul-‘ālamīn. “Dan kamu tidak mampu menghendaki (sesuatu), kecuali apabila Allah menghendaki, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)

Ayat ini adalah pernyataan teologis yang mengguncang ego manusia. Ia menegaskan bahwa kehendak manusia tidak berdiri sendiri. Di atas setiap rencana pribadi, ada rencana yang lebih tinggi. Namun menerima ayat ini secara intelektual jauh lebih mudah daripada menghidupkannya secara emosional.

Melipat payung ego berarti berani berdiri di bawah hujan takdir tanpa perlawanan yang sia-sia. Bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Dalam psikologi spiritual, fase ini disebut sebagai surrender — ketundukan sadar yang lahir dari pemahaman, bukan dari keputusasaan.

Qad aflaha man zakkāhā wa qad khāba man dassāhā. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Penyucian jiwa bukan hanya soal ritual, tetapi soal keberanian mengakui keterbatasan. Ego ingin selalu benar. Jiwa yang disucikan berani berkata: mungkin rencanaku bukan yang terbaik.

Artikel ini akan menelusuri bagaimana ego bekerja sebagai payung pertahanan, mengapa ia sulit dilipat, dan bagaimana keberanian untuk “basah kuyup” justru menjadi awal kedewasaan spiritual. Karena sering kali, keberkahan tidak turun pada mereka yang berlindung, tetapi pada mereka yang siap diterpa dan dibentuk.


☔ Ego adalah payung yang membuat kita kering dari hujan takdir — tapi juga kering dari pertumbuhan.

Halaman berikut (2/10): “Ego dalam Perspektif Psikologi dan Nafsu dalam Islam.”
Kita akan membedah struktur ego: kapan ia melindungi, dan kapan ia justru menghalangi ketundukan kepada Tuhan.