Halaman 1 — Rasa Takut yang Salah Arah Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Nyali
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.
Dalam demokrasi, rasa takut seharusnya mengalir ke satu arah: wakil rakyat takut mengecewakan rakyatnya. Takut tidak amanah. Takut mengkhianati suara pemilih. Namun realitas politik Indonesia justru memperlihatkan pola sebaliknya.
Banyak anggota DPR terlihat lebih berhati-hati menghadapi keputusan partai dibanding menghadapi aspirasi publik. Kritik dari masyarakat bisa diabaikan, kecaman media bisa diredam dengan klarifikasi normatif, tetapi teguran dari partai sering kali disikapi dengan kepatuhan total. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar yang jarang dibahas secara jujur: mengapa anggota DPR lebih takut pada partai daripada pada rakyat?
Ketakutan ini bukan sekadar persoalan psikologis individu, melainkan hasil dari desain sistem politik itu sendiri. Sejak proses pencalonan, kampanye, hingga pengambilan keputusan di parlemen, karier politik seorang anggota DPR sangat bergantung pada struktur partai. Rakyat memberikan suara, tetapi partai memegang kendali atas kelanjutan jabatan.
Dalam kondisi seperti ini, logika rasional anggota DPR pun bergeser. Mereka belajar cepat bahwa menyenangkan konstituen tidak selalu menjamin keselamatan politik, sementara mengecewakan partai bisa berujung pada sanksi nyata: dicabut dari alat kelengkapan, dimarginalkan, atau bahkan diberhentikan melalui mekanisme PAW. Ketakutan pun menemukan objeknya.
Ilmu politik menyebut situasi ini sebagai bentuk asymmetric accountability — wakil rakyat secara formal bertanggung jawab kepada pemilih, tetapi secara praktis bertanggung jawab kepada partai. Akibatnya, suara rakyat sering kali menjadi latar belakang, sementara suara partai menjadi penentu utama sikap politik.
Al-Qur’an menegaskan bahwa rasa takut yang benar harus ditempatkan pada pihak yang tepat.
Fa lā takhsyauhum wakhsyawnī.
Artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 44)
Ayat ini mengajarkan prinsip keberanian moral: ketakutan yang salah arah akan melahirkan ketidakadilan. Dalam politik, rasa takut yang diarahkan kepada kekuasaan duniawi sering kali membuat amanah publik terabaikan. Wakil rakyat yang lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan kepercayaan rakyat pada akhirnya kehilangan keduanya.
Hadis Nabi juga mengingatkan bahwa keberanian berkata benar adalah inti kepemimpinan yang adil.
Afdhalul-jihādi kalimatu ḥaqqin ‘inda sulṭānin jā’ir.
Artinya: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Jika menyampaikan kebenaran kepada penguasa adalah jihad moral, maka menyampaikan aspirasi rakyat di hadapan partai seharusnya menjadi kehormatan politik. Namun selama sistem membuat anggota DPR lebih takut pada struktur daripada pada nurani publik, keberanian itu akan terus menjadi pengecualian, bukan kebiasaan.
Halaman berikut (2/10):
“Akar Ketakutan Politik: Dari Pencalonan hingga PAW.”
Kita akan membedah bagaimana struktur partai membentuk rasa takut anggota DPR sejak awal karier politiknya.