Mengenal Tuhan Dimulai dari Mengenal Dirimu

Halaman 1 — Cermin yang Terlupakan Awal Perjalanan Menuju Kesadaran


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.

Banyak orang ingin mengenal Tuhan, tetapi sedikit yang mau mengenal dirinya sendiri. Kita rajin menghadiri kajian, membaca buku agama, menonton ceramah, bahkan berdiskusi panjang tentang konsep ketuhanan. Namun ketika ditanya, “Siapa kamu sebenarnya?” kita justru terdiam. Kita tahu definisi iman, tetapi belum tentu memahami kondisi hati sendiri. Kita hafal ayat, tetapi belum tentu mengenali motif terdalam dari setiap tindakan.

Dalam pendekatan penelitian reflektif—baik dalam tradisi tasawuf maupun psikologi modern—kesadaran diri adalah fondasi transformasi spiritual. Tanpa kesadaran diri, ibadah bisa berubah menjadi rutinitas kosong. Tanpa mengenal diri, doa bisa menjadi sekadar pengulangan kata tanpa kedalaman makna. Maka pertanyaan paling mendasar bukan “Di mana Tuhan?”, melainkan “Sudahkah aku mengenal siapa diriku?”

Secara teologis, manusia diciptakan dengan potensi akal dan hati. Potensi ini bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk merenung. Allah berfirman:

Sanurīhim āyātinā fil-āfāqi wa fī anfusihim ḥattā yatabayyana lahum annahul-ḥaqq.

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami) di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu benar.” (QS. Fuṣṣilat [41]: 53)

Perhatikan frasa “pada diri mereka sendiri”. Ini bukan kebetulan. Sebelum melihat tanda di langit dan bumi, manusia diminta melihat tanda dalam dirinya. Artinya, perjalanan mengenal Tuhan bukan hanya perjalanan ke luar—melainkan perjalanan ke dalam.

Dalam hadis yang masyhur di kalangan ulama hikmah disebutkan:

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.

Artinya: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Meskipun derajat hadis ini diperselisihkan, maknanya selaras dengan pesan Al-Qur’an: pengenalan diri adalah gerbang pengenalan Ilahi. Ketika seseorang jujur melihat kelemahannya, ia menyadari keterbatasannya. Ketika ia menyadari keterbatasannya, ia menyadari kebesaran Tuhan. Ketika ia melihat rapuhnya dirinya, ia memahami betapa bergantungnya ia pada Yang Maha Kuat.

Ironisnya, di era modern yang penuh informasi, manusia semakin jauh dari refleksi diri. Kita sibuk membangun citra, tetapi jarang membangun kesadaran. Kita mengenal profil media sosial lebih baik daripada mengenal pola emosi kita sendiri. Kita tahu apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tetapi belum tentu tahu apa yang sebenarnya kita rasakan.

Mengenal Tuhan bukan dimulai dari perdebatan teologis yang panjang, tetapi dari keberanian untuk duduk diam dan bertanya: apa motifku? apa ketakutanku? apa ambisiku? di mana letak kesombonganku? dan seberapa tulus ibadahku? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah titik awal kesadaran.

Jika kamu ingin mengenal Tuhan lebih dekat, jangan buru-buru mencari ke luar. Lihat dulu ke dalam. Karena bisa jadi, cermin yang selama ini kamu hindari adalah pintu yang selama ini kamu cari.


🌿 Mengenal Tuhan bukan dimulai dari langit yang jauh, tetapi dari hati yang jujur melihat dirinya sendiri.

Halaman berikut (2/10): “Struktur Diri: Akal, Nafsu, dan Hati.”
Kita akan membedah bagaimana komposisi batin manusia menjadi kunci memahami hubungan dengan Tuhan.