Halaman 1 — Berani Tidak Disukai Awal Kedewasaan Sejati
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada fase dalam hidup di mana kamu mulai lelah menjadi “orang baik” versi semua orang. Kamu menahan pendapat agar tidak memicu konflik. Kamu mengiyakan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan prinsipmu. Kamu tersenyum ketika hatimu ingin berkata tidak. Semua demi satu hal: agar tetap diterima.
Dalam penelitian psikologi sosial, kebutuhan akan penerimaan dikenal sebagai need for approval. Ia adalah bagian alami dari struktur kejiwaan manusia. Sejak kecil, kita belajar bahwa diterima berarti aman. Ditolak berarti terancam. Maka otak membangun mekanisme pertahanan: menyesuaikan diri. Namun masalahnya muncul ketika penyesuaian berubah menjadi pengkhianatan terhadap diri sendiri.
Pertanyaannya sederhana tapi menohok: sampai kapan kamu ingin hidup berdasarkan standar orang lain? Sampai kapan nilai dirimu ditentukan oleh jumlah yang menyukai dan yang tidak menyukai? Realitas paling jujur yang sering kita hindari adalah ini: tidak semua orang harus suka kamu. Bahkan orang yang paling tulus pun tetap punya pembenci. Bahkan kebenaran pun tetap memiliki penentang.
Al-Qur’an memberi pelajaran penting tentang batas tanggung jawab manusia:
Laisa ‘alaika hudāhum walākinnallāha yahdī man yasyā’.
Artinya: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah [2]: 272)
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat revolusioner secara mental: kamu tidak bertanggung jawab atas reaksi orang lain. Tugasmu adalah menjaga integritas, bukan memastikan semua orang nyaman. Dalam teori locus of control, individu yang matang adalah mereka yang fokus pada apa yang bisa ia kendalikan—bukan pada persepsi eksternal yang fluktuatif.
Jika kamu terus mengejar validasi, kamu akan kehilangan identitas. Kamu akan menjadi cermin bagi orang lain, bukan menjadi diri sendiri. Kamu akan berbicara bukan karena itu benar, tapi karena itu aman. Padahal sejarah membuktikan: perubahan besar lahir dari orang-orang yang siap tidak disukai demi mempertahankan prinsip.
Man iltamasā riḍallāhi bisakhaṭin-nās, raḍiyallāhu ‘anhu wa arḍā ‘anhu-n-nās.
Artinya: “Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun membuat manusia marah, maka Allah akan ridha kepadanya dan membuat manusia pun ridha kepadanya.” (HR. Tirmidzi)
Prinsipnya tegas: pusatkan orientasi pada kebenaran, bukan popularitas. Artikel ini akan mengurai secara ilmiah—melalui pendekatan psikologi perkembangan, teori identitas diri, dan perspektif spiritual—mengapa rasa takut tidak disukai sering menjadi sumber kecemasan terbesar dalam hidup modern. Kita akan membedah bagaimana pola ini terbentuk, bagaimana ia memengaruhi keputusan, dan bagaimana cara keluar darinya tanpa kehilangan adab dan kebijaksanaan.
Halaman berikut (2/10): “Akar Psikologis Rasa Takut Ditolak.”
Kita akan menelusuri bagaimana pengalaman masa kecil membentuk ketergantungan pada validasi sosial.