Halaman 1 — Ketika Membaca Diri Menjadi Awal Segala Rezeki
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma'in.
Peradaban tidak pernah tumbuh karena teknologi. Peradaban tidak pernah berjaya karena senjata. Dan peradaban tidak pernah menjadi besar hanya karena ilmu. Semua kemajuan — dari ekonomi, sains, pendidikan, sampai arsitektur — lahir dari satu fondasi paling mendasar namun paling sering diabaikan: kebajikan. Ketika hati manusia baik, akalnya menjadi jernih; ketika akal jernih, keputusannya tepat; ketika keputusan tepat, seluruh masyarakat bergerak maju. Dengan kata lain, peradaban adalah cermin dari akhlak manusianya.
Jika kita menelusuri sejarah dunia — Romawi, Persia, Cina, Jepang, Andalusia, Dinasti Abbasiyah, bahkan Eropa modern — kita akan menemukan pola yang sama: kebajikan tumbuh → peradaban naik. Kebajikan hilang → peradaban runtuh. Saat kebajikan menjadi budaya, kejujuran menguat, keadilan ditegakkan, dan kerja sama menjadi tradisi. Di situlah ekonomi meroket, ilmu berkembang, dan kedamaian terjaga. Namun, saat kebajikan digantikan keserakahan, korupsi, dan kesombongan, seluruh kejayaan mulai retak dari dalam.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Namun jika kamu mengingkari, maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini bukan sekadar ajakan tunduk secara ritual, tetapi rumus sosial peradaban: selama manusia menjaga kebajikan seperti syukur, rendah hati, adil, dan penyayang, maka nikmat akan bertambah. Begitu fondasi moral hilang, maka kehancuran datang secara alami — bukan karena Allah murka, tetapi karena manusia meruntuhkan rumahnya sendiri dari dalam.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Maka jika dunia modern terlihat semakin maju secara teknologi namun semakin miskin secara moral, itu bukan kemajuan yang sejati. Sebab peradaban sejati tidak diukur dari gedung yang tinggi, tetapi dari akhlak manusia di dalamnya. Ketika hati baik, masyarakat maju. Ketika hati rusak, peradaban pun ikut runtuh — cepat atau lambat.
Halaman berikut (2/10): “Di Mana Kebajikan Bersemi, Di Situ Peradaban Tumbuh.”
Kita akan membahas efek domino kebajikan — bagaimana satu tindakan baik mampu menumbuhkan kemajuan sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual.