Halaman 1 — Generasi Penentu Arah Antara Diam, Dijinakkan, atau Bergerak
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.
Setiap zaman selalu memiliki aktor penentunya. Dalam sejarah bangsa mana pun, perubahan besar hampir selalu lahir dari satu kelompok yang sama: generasi muda. Mereka bukan karena paling berkuasa, tetapi karena paling gelisah. Mereka belum sepenuhnya nyaman dengan keadaan, dan justru di situlah daya kritis bertumbuh. Pertanyaannya hari ini sederhana namun menentukan: apakah generasi muda masih menjadi penjaga kedaulatan rakyat, atau justru telah dialihkan perannya menjadi penonton yang sibuk namun tidak berpengaruh?
Dalam banyak narasi resmi, generasi muda sering disebut sebagai harapan bangsa. Namun di balik pujian itu, ada paradoks yang jarang dibicarakan. Ruang-ruang strategis pengambilan keputusan tetap dikuasai oleh struktur lama, sementara anak muda diarahkan ke wilayah yang aman: kreativitas tanpa kritik, inovasi tanpa keberanian politik, dan partisipasi yang berhenti pada simbol. Mereka didorong untuk produktif, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk menentukan arah.
Kedaulatan rakyat tidak mungkin dijaga tanpa keterlibatan generasi muda. Setiap penyempitan demokrasi selalu dimulai dari pelemahan partisipasi generasi baru. Ketika anak muda apatis, kekuasaan menjadi nyaman. Ketika mereka hanya sibuk mengejar validasi digital tanpa kesadaran politik, kedaulatan berubah menjadi jargon kosong. Di titik ini, generasi muda bukan sekadar korban sistem, tetapi berpotensi menjadi faktor penentu apakah kedaulatan akan dipertahankan atau direbut kembali.
Artikel ini disusun dengan pendekatan penelitian pustaka dan refleksi sosial-politik kontemporer untuk membaca posisi generasi muda dalam relasi kedaulatan rakyat. Fokus utamanya bukan glorifikasi anak muda sebagai penyelamat instan, melainkan analisis kritis: di mana letak kekuatan mereka, bagaimana kekuasaan berusaha mengelola—bahkan menjinakkan—energi muda, dan apa syarat agar generasi ini benar-benar mampu menjaga serta merebut kembali kedaulatan rakyat secara bermartabat.
Sejarah menunjukkan bahwa generasi muda selalu berada di persimpangan. Mereka bisa menjadi motor perubahan, atau menjadi lapisan yang paling mudah dialihkan perhatiannya. Kedaulatan rakyat tidak runtuh karena satu keputusan besar, melainkan karena generasi baru tumbuh tanpa kesadaran akan perannya. Maka pertanyaan kunci bukan sekadar apa peran generasi muda? tetapi siapa yang sedang membentuk kesadaran mereka hari ini?
Dalam perspektif etika Islam, perubahan sosial selalu dimulai dari perubahan kesadaran. Tidak ada transformasi struktural tanpa kesiapan mental dan moral. Generasi muda diposisikan bukan hanya sebagai pewaris, tetapi sebagai pemikul amanah. Amanah itu bukan sekadar melanjutkan, melainkan mengoreksi ketika arah menyimpang.
Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin ḥattā yughayyirū mā bi-anfusihim.
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan bukan hadiah, melainkan hasil kesadaran kolektif. Dalam konteks kedaulatan rakyat, generasi muda memegang kunci perubahan itu. Ketika mereka sadar, kritis, dan berani terlibat, kedaulatan menemukan penjaganya. Ketika mereka abai, kedaulatan kehilangan generasi penerusnya.
Halaman berikut (2/10):
“Generasi Muda dan Sejarah Perubahan Kedaulatan.”
Kita akan menelusuri peran historis anak muda dalam menjaga dan merebut kembali
kedaulatan rakyat di berbagai fase sejarah.