Halaman 1 — Suara yang Membentuk Kesadaran Awal Pertarungan Demokrasi
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.
Dalam setiap sistem demokrasi, terdapat satu kekuatan yang tidak pernah dipilih melalui pemilu, tidak mengangkat tangan dalam sidang parlemen, dan tidak menandatangani keputusan negara—namun pengaruhnya sering kali lebih menentukan daripada lembaga resmi kekuasaan. Kekuatan itu adalah media massa.
Media bukan sekadar penyampai informasi. Ia membentuk cara publik memahami realitas. Peristiwa yang sama dapat melahirkan persepsi berbeda, tergantung bagaimana ia disusun, diberi judul, dan ditekankan dalam pemberitaan. Dalam konteks ini, media berperan sebagai produsen makna sosial, bukan hanya pengantar fakta.
Teori demokrasi klasik menyebut media sebagai the fourth estate, pilar keempat yang bertugas mengawasi kekuasaan negara demi kepentingan publik. Idealnya, media menjadi ruang koreksi, tempat suara rakyat yang tak terdengar dapat memperoleh artikulasi. Namun, realitas demokrasi modern menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.
Konsentrasi kepemilikan media, ketergantungan pada modal, serta tekanan politik dan algoritma digital perlahan menggeser posisi media. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah media berpengaruh, melainkan untuk siapa pengaruh itu bekerja.
Yā ayyuhalladzīna āmanū kūnū qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā’a lillāhi walau ‘alā anfusikum awil-wālidayni wal-aqrabīn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisā’ [4]: 135)
Prinsip keadilan dan kesaksian ini relevan langsung dengan fungsi media. Informasi yang disampaikan kepada publik sejatinya adalah bentuk kesaksian sosial. Ketika kesaksian tersebut dipengaruhi kepentingan kekuasaan, maka demokrasi kehilangan fondasi utamanya: kesadaran publik yang jujur.
Demokrasi jarang runtuh secara tiba-tiba. Ia melemah secara perlahan, ketika masyarakat tidak lagi mendapatkan informasi yang utuh dan berimbang. Dalam kondisi demikian, rakyat tetap bersuara—tetapi arah dan makna suaranya telah dibentuk sebelumnya.
Halaman berikut (2/10):
Media dan Kekuasaan: Dari Penjaga Publik ke Mesin Narasi.
Kita akan menelusuri bagaimana hubungan historis media, modal, dan politik
membentuk wajah demokrasi modern.