Halaman 1 — Antara Cepat dan Dangkal Kesalahan Umum Saat Riset
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Di era digital, riset terasa semakin mudah. Cukup mengetik beberapa kata, ratusan jawaban muncul dalam hitungan detik. Namun justru di sinilah masalah baru lahir: semakin cepat riset dilakukan, semakin besar godaan untuk merasa sudah tahu.
Banyak orang mengira riset cepat berarti riset dangkal. Akibatnya, mereka terjebak pada dua ekstrem: terlalu lama membaca tanpa kesimpulan, atau terlalu cepat menyimpulkan tanpa pemahaman. Keduanya sama-sama bermasalah.
Riset sejatinya bukan soal lama atau cepat, melainkan soal tepat. Riset yang tepat mampu memberi gambaran utuh tanpa membuat peneliti tenggelam dalam detail yang tidak perlu. Di sinilah perbedaan antara riset yang dewasa dan sikap sok tahu yang terselubung.
Sikap sok tahu sering muncul bukan karena niat buruk, tetapi karena proses berpikir yang terpotong. Seseorang membaca satu sumber, menemukan satu pendapat yang terasa cocok, lalu berhenti. Rasa puas datang terlalu cepat, sebelum pemahaman benar-benar terbentuk.
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm.
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36)
Ayat ini memberi peringatan tegas tentang bahaya kesimpulan tanpa dasar. Mengikuti sesuatu tanpa ilmu bukan hanya kesalahan intelektual, tetapi juga kesalahan etis. Dalam konteks riset, ayat ini menuntut kehati-hatian sebelum menyatakan “sudah paham”.
Riset cepat yang sehat justru dimulai dari kesadaran akan keterbatasan diri. Orang yang benar-benar meneliti tahu bahwa pengetahuan awal hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Kesadaran ini menjaga mereka tetap rendah hati dan terbuka terhadap koreksi.
Al-‘ilmu ‘ilmain: ‘ilmun fil-qalbi wa ‘ilmun fil-lisān.
Artinya: “Ilmu itu ada dua: ilmu yang menetap di hati dan ilmu yang hanya di lisan.” (Makna hikmah yang masyhur di kalangan ulama)
Ilmu yang menetap di hati lahir dari proses berpikir yang jujur dan utuh. Sebaliknya, ilmu di lisan sering kali muncul dari riset setengah jalan. Perbedaan inilah yang membuat seseorang tampak cepat bicara, tetapi lambat memahami.
Artikel ini akan membahas bagaimana melakukan riset secara cepat tanpa terjebak pada sikap sok tahu. Kita akan melihat bahwa kecepatan tidak harus mengorbankan kedalaman, selama proses berpikir dijaga dengan disiplin dan kesadaran.
Halaman berikut (2/10):
“Membedakan Riset dan Sekadar Mencari.”
Kita akan membahas batas tegas antara riset yang bertanggung jawab dan pencarian informasi yang asal cepat.