Saat DPR Ramai, Rakyat Justru Sepi

Halaman 1 — Ruang Sidang yang Gemuruh Lorong Kehidupan yang Sunyi


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Di dalam gedung parlemen, mikrofon menyala, palu diketuk, dan suara-suara saling bersahutan. Agenda dibacakan, interupsi diajukan, dan rapat berjalan hingga larut malam. Dari luar, semua tampak dinamis—bahkan heroik. Demokrasi terlihat hidup. Namun di luar pagar tinggi dan dinding marmer itu, kehidupan rakyat sering berjalan dalam kesunyian yang berbeda. Harga kebutuhan pokok tetap menekan, lapangan kerja masih sempit, dan akses terhadap layanan publik terasa lambat. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sidang berlangsung, tetapi apakah ia benar-benar menyentuh denyut kehidupan masyarakat.

Fenomena ini menghadirkan paradoks demokrasi: ketika ruang sidang terasa penuh energi, sebagian warga justru merasa suaranya tidak bergema. Dalam kajian politik representatif, parlemen berfungsi sebagai jembatan antara aspirasi rakyat dan kebijakan negara. Namun jembatan itu hanya efektif jika arus komunikasi berjalan dua arah. Jika tidak, ia berubah menjadi simbol tanpa substansi.

Penelitian pustaka tentang efektivitas parlemen menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan tidak terletak pada intensitas perdebatan, melainkan pada dampak kebijakan yang dihasilkan. Sidang yang ramai belum tentu melahirkan perubahan nyata. Bahkan, dalam beberapa kasus, dinamika internal justru lebih mencerminkan kalkulasi politik dibandingkan kebutuhan sosial.

Dalam perspektif sosiologi politik, kondisi ini sering disebut sebagai “alienasi representatif”—sebuah keadaan di mana masyarakat merasa terpisah dari proses pengambilan keputusan. Mereka melihat aktivitas politik berlangsung, tetapi tidak merasakan konsekuensi positifnya dalam kehidupan sehari-hari.

Yā ayyuhalladzīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 2)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya konsistensi antara kata dan tindakan. Dalam konteks parlemen, janji dan pernyataan dalam sidang harus berujung pada kebijakan yang memberi manfaat nyata. Tanpa implementasi yang konkret, keramaian diskusi kehilangan makna transformasionalnya.

Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah mengapa dinamika sidang DPR sering tidak selaras dengan pengalaman rakyat. Apakah persoalannya terletak pada desain kebijakan, prioritas anggaran, lemahnya pengawasan, atau terbatasnya partisipasi publik? Dengan pendekatan analitis, kita akan menelusuri hubungan antara keramaian parlemen dan kesunyian sosial.

Demokrasi sejati bukan hanya tentang suara yang terdengar di ruang sidang, tetapi tentang suara yang terjawab di ruang kehidupan. Ketika rakyat merasa sepi di tengah keramaian politik, di situlah refleksi dan evaluasi menjadi kebutuhan mendesak.


🌿 Keramaian sidang belum tentu berarti keberpihakan. Demokrasi hidup ketika rakyat benar-benar merasakan perubahan.

Halaman berikut (2/10): “Antara Retorika dan Realitas.”
Kita akan menelusuri bagaimana bahasa politik dapat menjauh dari pengalaman sosial masyarakat.