Halaman 1 — Tamu Bernama Sakit Datang Tanpa Undangan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Tidak ada manusia yang bisa mengatur semua yang datang dalam hidupnya. Pengkhianatan bisa muncul tanpa aba-aba. Kegagalan bisa terjadi meski sudah berusaha maksimal. Kehilangan bisa mengetuk pintu tanpa permisi.
Sakit itu datang. Ia adalah bagian dari hukum kehidupan. Namun yang jarang disadari adalah: sakit mungkin tidak bisa kita cegah, tetapi lamanya ia tinggal sering kali bergantung pada cara kita meresponsnya.
Dalam psikologi, peristiwa menyakitkan disebut sebagai stimulus. Tetapi penderitaan yang berkepanjangan sering kali bukan hanya hasil dari stimulus, melainkan dari interpretasi dan pengulangan mental atas peristiwa tersebut.
Satu kejadian mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun dalam pikiran, ia bisa diulang ratusan kali. Di sinilah sakit berubah dari tamu menjadi penghuni.
Banyak orang berkata, “Aku tidak bisa melupakannya.” Padahal sering kali bukan soal lupa atau tidak, tetapi soal memberi ruang atau tidak. Sakit yang diberi kursi kehormatan dalam hati akan sulit pergi.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia:
Wa lanabluwannakum bisyai’in minal-khawfi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt.
Artinya: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155, bagian ayat)
Ayat ini tidak menjanjikan hidup tanpa rasa sakit. Ia justru menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan. Namun ayat tersebut juga memberi pesan bahwa ujian memiliki batas dan tujuan.
Sakit adalah peristiwa. Penderitaan berkepanjangan adalah pilihan respons. Kita tidak memilih badai yang datang, tetapi kita bisa memilih apakah akan terus berdiri di tengah hujan atau mencari tempat berteduh.
Artikel ini akan menelusuri secara ilmiah dan spiritual: bagaimana rasa sakit bekerja, mengapa ia bisa bertahan lama, dan bagaimana cara memutus siklus agar ia tidak menetap lebih dari yang diperlukan.
Karena pada akhirnya, sakit mungkin datang tanpa izin— tetapi tinggalnya, sering kali, ada dalam kendali kita.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Otak Mengulang Rasa Sakit?”
Kita akan memahami secara ilmiah bagaimana pikiran memperpanjang atau mempersingkat luka.