Halaman 1 — Adab Sebelum Ilmu Fondasi yang Tak Boleh Hilang
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Banyak orang tua hari ini berlomba menjadikan anaknya jenius: masukkan ke les matematika, kursus bahasa asing, robotik, coding, bahkan stimulasi kecerdasan sejak bayi. Kita bangga kalau anak cepat membaca, cepat berhitung, cepat berbicara bahasa asing. Tapi sering lupa satu hal yang jauh lebih penting, yang menjadi pondasi dari seluruh keberhasilan manusia sepanjang sejarah: adab.
Adab adalah pintu segala keberkahan. Anak yang pandai tetapi tidak beradab akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur, sulit menerima kritik, mudah menghina, dan tidak mampu hidup dalam harmoni sosial. Ia mungkin cerdas, tetapi tidak dipercaya. Ia mungkin berbakat, tetapi tidak disukai. Ia mungkin cepat menang, tetapi cepat pula tumbang. Karena dalam kehidupan, orang tidak hanya dinilai dari kecerdasan — tetapi dari kelapangan hatinya, etika berbicaranya, cara ia menghormati orang tua, cara ia memperlakukan sesama, dan bagaimana ia menjaga dirinya ketika tidak ada yang melihat. Di sinilah adab menjadi mahkota yang melindungi seluruh kecerdasan agar tidak berubah menjadi bumerang.
Waghuḍuḍ min ṣautika, inna ankaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr.
Artinya: “Rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqmān [31]: 19)
Ayat ini bukan hanya tentang bagaimana berbicara, tetapi tentang bagaimana menjadi manusia. Allah tidak memerintahkan kita untuk menjadi paling cerdas, tetapi memerintahkan kita untuk menjadi manusia paling beradab. Dari situlah keberkahan lahir. Sebab adab adalah cara kita menjaga diri dari kesombongan, dari berkata kasar, dari melukai hati, dan dari tindakan yang merendahkan martabat orang lain. Dan sebuah rumah yang dihuni anak-anak beradab akan selalu terasa tenteram, hangat, dan dipenuhi rahmat.
Ta‘allamul-adaba qabla an tata‘allamul-‘ilma.
Artinya: “Belajarlah adab sebelum belajar ilmu.” (Maqolah Imam Malik)
Adab adalah cahaya. Ilmu adalah pedang. Pedang tanpa cahaya akan membutakan, menyakiti, dan merusak. Tetapi ketika ilmu berada di bawah cahaya adab, ia menjadi alat kebaikan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Inilah alasan mengapa dalam Islam, pendidikan dimulai bukan dari kepintaran, tetapi dari akhlak. Sebelum anak pandai membaca, ia diajarkan menghormati orang tua. Sebelum anak pandai berhitung, ia diajarkan berkata lembut. Sebelum anak pandai bersaing, ia diajarkan untuk tidak menyombongkan diri.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Adab Lebih Penting daripada Kepintaran dalam Pembentukan Karakter Anak.”