Halaman 1 — Membaca Kesehatan Demokrasi Kita
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.
Demokrasi sering dinilai sehat atau tidak hanya dari satu indikator: apakah pemilu berlangsung atau tidak. Ketika rakyat masih datang ke bilik suara, surat suara masih dicoblos, dan hasil pemilihan diumumkan secara resmi, demokrasi dianggap hidup. Namun pertanyaan yang lebih mendasar jarang diajukan secara serius: apakah demokrasi itu benar-benar bekerja untuk rakyat yang memilihnya?
Dalam ilmu politik dan kajian demokrasi, kesehatan demokrasi tidak pernah diukur dari prosedur semata. Ia dinilai dari kombinasi indikator: kualitas partisipasi publik, kebebasan sipil, akuntabilitas kekuasaan, keadilan hukum, serta kepercayaan rakyat terhadap institusi negara. Demokrasi yang sehat tidak hanya memungkinkan rakyat memilih, tetapi juga memastikan suara mereka berdampak nyata dalam kebijakan publik.
Di banyak negara demokrasi berkembang, termasuk Indonesia, muncul gejala paradoksal: demokrasi secara prosedural berjalan, tetapi secara substantif dipertanyakan. Pemilu rutin diselenggarakan, namun kebijakan strategis sering terasa jauh dari kepentingan publik. Rakyat hadir sebagai pemilih, tetapi absen sebagai pengendali kekuasaan.
Pertanyaan “sehatkah demokrasi kita” menjadi penting karena demokrasi, seperti tubuh manusia, bisa tampak berfungsi meski sesungguhnya sedang sakit. Gejala awal sering tidak dramatis: turunnya kepercayaan publik, meningkatnya apatisme politik, normalisasi ketimpangan hukum, serta melemahnya daya kritis masyarakat. Jika gejala ini diabaikan, demokrasi tetap berdiri, tetapi kehilangan daya hidupnya.
Wa lā taktumū ash-shahādah, wa man yaktumhā fa innahū āthimun qalbuh.
Artinya: “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian; barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 283)
Ayat ini menegaskan pentingnya kejujuran, keterbukaan, dan keberanian bersaksi dalam kehidupan sosial. Dalam konteks demokrasi, menyembunyikan fakta, memanipulasi data, atau membungkam kritik merupakan tanda awal dari menurunnya kesehatan sistem politik. Demokrasi tidak mati karena kritik yang keras, tetapi karena kebenaran tidak lagi diberi ruang.
Oleh karena itu, artikel ini tidak bertanya apakah kita hidup dalam negara demokrasi, melainkan sejauh mana demokrasi itu masih bekerja secara sehat. Dengan menggunakan indikator ilmiah, data empiris, dan fakta lapangan, pembahasan ini berupaya membaca kondisi demokrasi tanpa euforia dan tanpa ketakutan.
Halaman berikut (2/10):
Indikator Demokrasi: Apa yang Diukur dan Mengapa Penting.
Kita akan membahas indikator-indikator utama
yang digunakan ilmuwan dan lembaga global
untuk menilai kesehatan sebuah demokrasi.