Halaman 1 — Mencintai Diri dengan Benar Antara Kesadaran dan Kesalahpahaman
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
“Aku lagi fokus self love.” Kalimat ini terdengar kuat, modern, dan penuh kesadaran. Tetapi di sisi lain, tidak sedikit yang langsung memberi label: egois. Seolah-olah mencintai diri sendiri berarti menutup mata terhadap kebutuhan orang lain. Seolah-olah menjaga diri sama dengan mementingkan diri. Padahal, benarkah demikian?
Dalam kajian psikologi humanistik, konsep self love berakar pada teori Abraham Maslow tentang aktualisasi diri dan Carl Rogers tentang self acceptance. Manusia yang mampu menerima dirinya secara utuh cenderung memiliki empati yang lebih sehat terhadap orang lain. Sebaliknya, individu yang membenci atau menolak dirinya sering kali memproyeksikan luka batinnya dalam relasi sosial. Dengan kata lain, ketidakmampuan mencintai diri justru bisa menjadi sumber konflik eksternal.
Namun di tengah arus media sosial, self love sering disederhanakan menjadi slogan. Ia dipersempit menjadi pembenaran untuk berkata “tidak peduli orang lain,” atau “yang penting aku bahagia.” Di sinilah muncul kesalahpahaman. Self love yang sehat adalah kesadaran akan nilai diri sebagai makhluk Allah, bukan pembesaran ego yang menempatkan diri sebagai pusat segalanya.
Wa laqad karramnā banī Ādam.
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan bawaan. Mencintai diri berarti mengakui kemuliaan tersebut — bukan dengan kesombongan, tetapi dengan rasa syukur. Jika Allah sendiri memuliakan manusia, maka merendahkan diri secara berlebihan hingga membenci diri adalah bentuk ketidakseimbangan.
Secara ilmiah, individu dengan healthy self-esteem memiliki batas pribadi yang jelas. Mereka mampu berkata “tidak” tanpa rasa bersalah yang berlebihan. Mereka menjaga energi mentalnya agar tidak habis oleh tuntutan yang tidak proporsional. Ini bukan egoisme, melainkan regulasi diri yang matang.
Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih.
Artinya: “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini justru menunjukkan bahwa mencintai orang lain dimulai dari mencintai diri. Bagaimana seseorang bisa menginginkan kebaikan untuk orang lain jika ia sendiri tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya? Maka self love dalam perspektif iman bukan egoisme, tetapi fondasi empati.
Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan spiritual: di mana batas antara self love dan egoisme? Bagaimana mencintai diri tanpa terjebak dalam kesombongan? Dan bagaimana Islam menempatkan keseimbangan antara menjaga diri dan peduli pada sesama? Sebab mencintai diri yang benar bukan membuat seseorang menjauh dari orang lain — melainkan membuatnya lebih utuh dalam memberi.
Halaman berikut (2/10):
“Self Love dalam Perspektif Psikologi.”
Kita akan menelusuri akar ilmiah konsep self love dan bagaimana ia berbeda dari narsisme.