Siapa Takut pada LSM yang Konsisten ?

Halaman 1 — Keberanian yang Tidak Lelah Konsistensi sebagai Ancaman?


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tajam: siapa sebenarnya yang takut pada LSM yang konsisten? Apakah masyarakat yang merasa terganggu? Ataukah kekuasaan yang merasa terus diawasi? Dalam dinamika demokrasi modern, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsisten sering kali dianggap “terlalu keras”, “tidak pernah puas”, atau “selalu mencari celah kesalahan”. Namun justru di situlah letak fungsinya. Konsistensi dalam kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan bentuk kepedulian terhadap sistem yang sehat.

Berdasarkan pendekatan penelitian pustaka terhadap teori masyarakat sipil dan pengawasan kekuasaan, konsistensi merupakan indikator integritas. Kelompok advokasi yang hanya bersuara ketika isu sedang populer tidak dapat disebut konsisten. Konsistensi berarti tetap berdiri pada prinsip, meskipun isu sudah tidak viral, meskipun tekanan sosial meningkat, dan meskipun dukungan publik menurun. Dalam konteks negara hukum, konsistensi justru menjadi fondasi kredibilitas.

LSM yang konsisten sering kali menimbulkan ketidaknyamanan. Mereka tidak berhenti pada satu peringatan. Mereka mengulang, meneliti ulang, dan mengingatkan kembali. Dalam perspektif sosiologis, ketidaknyamanan ini bukanlah ancaman, melainkan refleksi bahwa fungsi kontrol sosial sedang bekerja. Sistem yang sehat tidak takut diawasi; yang merasa terancam justru biasanya mereka yang memiliki sesuatu untuk disembunyikan.

Yā ayyuhalladzīna āmanū kūnū qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā’a lillāh.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.” (QS. An-Nisā’ [4]: 135)

Prinsip menegakkan keadilan menuntut keberlanjutan sikap, bukan reaksi sesaat. Konsistensi dalam memperjuangkan transparansi dan akuntabilitas adalah bagian dari komitmen moral tersebut. Maka pertanyaan “siapa takut?” bukan sekadar retorika, melainkan ujian terhadap kualitas demokrasi itu sendiri. Jika sistem kuat, ia akan terbuka terhadap pengawasan. Jika sistem rapuh, ia akan alergi terhadap kritik yang terus-menerus.

Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah mengapa konsistensi LSM sering dianggap ancaman, bagaimana teori negara hukum memandang kontrol sosial berkelanjutan, dan mengapa demokrasi justru membutuhkan kelompok yang tidak lelah mengingatkan. Kita akan melihat bahwa ketakutan terhadap LSM yang konsisten bukan soal kebisingan kritik, tetapi soal ketahanan sistem terhadap transparansi.

Pada akhirnya, keberanian yang paling mengganggu bukanlah yang keras sesaat, melainkan yang tenang namun tidak pernah berhenti. Konsistensi adalah bentuk keberanian jangka panjang — dan keberanian semacam inilah yang sering membuat kekuasaan gelisah.


🌿 Konsistensi bukan tentang menjadi paling keras, tetapi tentang tetap berdiri ketika semua orang sudah lelah.

Halaman berikut (2/10): “Konsistensi dan Integritas dalam Teori Negara Hukum.”
Kita akan membedah secara akademik mengapa konsistensi justru menjadi indikator paling kuat dari integritas advokasi.