Stop Bandingin Bab 2 Hidupmu Sama Bab 20 Orang Lain

Halaman 1 — Ilusi Bab yang Tidak Sejajar Ketika Timeline Menipu Persepsi


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Kamu pernah ngerasa kayak gini nggak? Baru mulai bangun sesuatu, eh timeline sudah penuh orang pamer pencapaian. Kamu lagi di tahap belajar, orang lain sudah panen. Kamu baru berani mulai, orang lain sudah launching versi kelima. Rasanya kayak hidupmu baru Bab 2 — tapi kamu sibuk membandingkannya dengan Bab 20 orang lain. Dan anehnya, kamu merasa tertinggal… padahal kamu bahkan belum selesai membaca cerita sendiri.

Secara psikologis, ini bukan sekadar perasaan. Dalam kajian social comparison theory, manusia memang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi nilai diri. Masalahnya, di era media sosial, kita tidak lagi melihat proses orang — kita hanya melihat highlight. Kita membandingkan “behind the scenes” hidup kita dengan “best moment” hidup orang lain. Dan itu jelas tidak adil.

Penelitian pustaka dalam psikologi modern menunjukkan bahwa perbandingan yang tidak proporsional meningkatkan kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, dan memicu sindrom impostor. Orang merasa dirinya tidak cukup, tidak cepat, tidak sehebat yang lain. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah ketidaksejajaran fase. Kamu tidak kalah. Kamu hanya beda bab.

Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki takaran dan fase hidup yang berbeda. Allah berfirman:

Naḥnu qasamnā bainahum ma‘īsyatahum fil-ḥayātid-dunyā.

Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 32)

Ayat ini menegaskan bahwa distribusi rezeki, peluang, bahkan momentum hidup bukan hasil perlombaan semata, melainkan bagian dari skenario Ilahi. Jika Allah saja membagi fase hidup manusia dengan hikmah, mengapa kita memaksa diri hidup di bab yang bukan milik kita?

Nabi juga mengingatkan agar kita tidak merusak ketenangan batin dengan terus melihat ke atas dalam urusan dunia:

Unẓurū ilā man huwa asfala minkum wa lā tanẓurū ilā man huwa fauqakum.

Artinya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian.” (HR. Muslim)

Ini bukan ajakan untuk stagnan, tapi ajakan untuk waras. Karena ketika kamu terus melihat Bab 20 orang lain, kamu akan merasa Bab 2 milikmu tidak berarti. Padahal Bab 2 itu fondasi. Tanpa Bab 2 yang kuat, Bab 20 hanya akan jadi bangunan rapuh.

Artikel ini akan mengajakmu membaca ulang cara kamu memandang timeline hidup. Kita akan membedah secara ilmiah dan spiritual kenapa perbandingan fase itu menyesatkan, bagaimana dampaknya pada mental, dan bagaimana cara mengembalikan fokus ke perjalananmu sendiri. Karena mungkin yang perlu kamu hentikan bukan usahamu — tapi kebiasaan membandingkan bab yang tidak sejajar.


🌿 Kamu tidak tertinggal. Kamu hanya sedang menulis bab yang berbeda.

Halaman berikut (2/10): “Highlight vs Realita: Distorsi Persepsi di Era Digital.”
Kita akan membedah bagaimana media sosial membuat perbandingan semakin tidak adil.