Halaman 1 — Membangun dari Dasar Mengapa Syukur Bukan Tambahan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang memperlakukan syukur seperti hadiah tambahan. Ia muncul setelah target tercapai, setelah gaji naik, setelah bisnis berkembang, setelah doa dikabulkan. Syukur dianggap sebagai respons terhadap keberhasilan. Jika berhasil, bersyukur. Jika gagal, menunggu sampai berhasil baru bersyukur. Tanpa disadari, pola pikir ini membuat syukur berada di posisi paling akhir—sebagai bonus, bukan sebagai fondasi.
Padahal, jika kita melihat lebih dalam, justru syukur yang menjadi pondasi mental dan spiritual sebelum segala pencapaian terjadi. Syukur bukan hasil dari kelimpahan, tetapi penyebab ketenangan. Syukur bukan reaksi setelah diberi, tetapi sikap sebelum meminta. Inilah pergeseran cara pandang yang sering terlewat: manusia mengejar rasa cukup melalui pencapaian, padahal rasa cukup lahir dari syukur.
Dalam kajian psikologi positif, rasa syukur terbukti meningkatkan kesejahteraan emosional, menurunkan stres, dan memperkuat ketahanan mental. Orang yang membiasakan diri bersyukur memiliki tingkat optimisme lebih tinggi dan lebih tahan terhadap tekanan. Artinya, syukur bukan sekadar nilai spiritual, tetapi fondasi psikologis yang kokoh.
Namun Islam sudah lebih dulu menegaskan posisi syukur sebagai prinsip utama kehidupan. Allah berfirman:
La’in syakartum la’azīdannakum, wa la’in kafartum inna ‘adzābī la syadīd.
Artinya: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrāhīm [14]: 7)
Ayat ini menunjukkan urutan yang jelas: syukur lebih dulu, lalu penambahan. Bukan sebaliknya. Tambahan bukan syarat untuk bersyukur. Justru syukur adalah syarat datangnya tambahan. Maka syukur bukan efek samping dari keberhasilan, tetapi sebab yang mengundang keberkahan.
Ketika seseorang menunggu bahagia untuk bersyukur, ia akan terus merasa kurang. Tetapi ketika ia bersyukur lebih dulu, ia menciptakan fondasi batin yang stabil. Dari stabilitas itu lahir ketenangan, dari ketenangan lahir kejernihan berpikir, dan dari kejernihan lahir keputusan-keputusan yang lebih baik.
Rasulullah adalah teladan nyata dalam menjadikan syukur sebagai dasar, bukan sebagai bonus. Dalam keadaan lapang maupun sempit, beliau tetap bersyukur. Dalam hadis disebutkan:
Afalā akūnu ‘abdan syakūrā.
Artinya: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ungkapan ini muncul bukan saat beliau berada dalam kemewahan, tetapi setelah melalui ujian dan keletihan. Artinya, syukur bukan reaksi terhadap kenyamanan, tetapi keputusan sadar untuk mengakui nikmat dalam segala keadaan.
Maka pertanyaannya bukan “Sudahkah aku mendapat cukup untuk bersyukur?”, tetapi “Sudahkah aku menjadikan syukur sebagai dasar hidupku?” Karena jika syukur hanya muncul saat segalanya baik, maka ia rapuh. Tetapi jika syukur menjadi fondasi, maka ia akan menopang jiwa dalam keadaan apa pun.
Syukur itu fondasi, bukan bonus. Ia bukan penutup cerita, tetapi pembuka jalan. Dan di sinilah pembahasan kita dimulai.
Halaman berikut (2/10): “Makna Syukur dalam Perspektif Ilmiah dan Spiritual.”
Kita akan membedah lebih dalam mengapa syukur membentuk cara berpikir, bukan sekadar perasaan.