Halaman 1 — Fondasi yang Sering Diabaikan Bahagia Dimulai dari Kejujuran Realita
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Semua orang ingin bahagia. Tetapi jujur saja, tidak semua orang siap menghadapi kenyataan hidupnya sendiri. Kita ingin sukses, tapi menolak kondisi finansial yang sedang minus. Kita ingin hubungan yang harmonis, tapi tidak mau mengakui ego dan luka batin yang belum selesai. Kita ingin hidup terasa ringan, tapi menyangkal fakta bahwa dunia memang penuh ujian.
Dalam pendekatan psikologi modern berbasis penelitian pustaka dan lapangan, kebahagiaan tidak pernah lahir dari penyangkalan. Ia tumbuh dari acceptance — penerimaan terhadap realitas objektif. Acceptance bukan berarti menyerah. Bukan pasrah tanpa usaha. Acceptance adalah keberanian mengakui fakta sebelum menyusun strategi perubahan.
Banyak kecemasan muncul bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena ekspektasi terlalu tinggi dan tidak sinkron dengan kenyataan. Dalam studi terapi kognitif-perilaku, konflik antara harapan dan realita terbukti menjadi sumber stres kronis. Semakin jauh jarak antara “seharusnya” dan “kenyataannya”, semakin besar kegelisahan batin.
Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini berjalan dalam hukum yang terukur. Tidak ada beban di luar kapasitas manusia.
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Ayat ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ia adalah prinsip realitas. Artinya, kondisi hidup yang sedang kita jalani — sesulit apa pun — berada dalam kapasitas kita. Namun penderitaan sering kali muncul karena kita menolak mengakuinya.
Tahap pertama bahagia bukan memperbaiki semuanya sekaligus. Bukan juga mengejar pencapaian baru. Tapi berhenti sejenak dan berkata dengan jujur: “Inilah realitaku hari ini.”
Menerima realita berarti berhenti menyalahkan masa lalu, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, dan berhenti hidup dalam bayangan versi ideal yang tidak pernah benar-benar ada. Ia adalah fondasi psikologis sekaligus spiritual.
Bahagia bukan datang dari perubahan eksternal semata. Ia lahir dari keselarasan antara harapan dan kenyataan. Dan keselarasan itu dimulai dari keberanian menghadapi fakta, bukan melarikan diri darinya.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Penolakan Realita Membuat Hati Gelisah?”
Kita akan membedah secara ilmiah dan spiritual bagaimana penolakan terhadap kenyataan
menjadi sumber utama kecemasan di era modern.