Halaman 1 — Akar Gelisah yang Tersembunyi Berhenti Menyalahkan, Mulai Bertumbuh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ketika hidup terasa berat, refleks pertama manusia adalah mencari siapa yang salah. Kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan masa lalu, bahkan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tanpa sadar, kebiasaan menyalahkan ini menjadi mekanisme pertahanan ego. Ia memberi ilusi bahwa masalah bukan tanggung jawab kita.
Namun secara psikologis, menyalahkan justru memperpanjang penderitaan. Dalam penelitian tentang locus of control, individu yang terus-menerus menyalahkan faktor eksternal cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi dan rasa tidak berdaya yang lebih besar. Mereka merasa hidup dikendalikan oleh orang lain dan keadaan. Akibatnya, motivasi untuk berubah menurun.
Menyalahkan memberi rasa lega sesaat, tetapi tidak pernah memberi solusi. Ia seperti menggaruk luka tanpa mengobatinya. Sementara bahagia membutuhkan tanggung jawab, bukan kambing hitam.
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana manusia cenderung mencari pihak lain untuk dipersalahkan.
Qālū rabbanā ghālabat ‘alainā syiqwatunā wa kunnā qauman ḍāllīn.
Artinya: “Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan kami adalah kaum yang sesat.’” (QS. Al-Mu’minun [23]: 106)
Ayat ini menunjukkan kecenderungan manusia mengakui kesalahan setelah terlambat. Selama hidup, banyak orang memilih menyalahkan keadaan daripada melakukan evaluasi diri lebih awal.
Berhenti menyalahkan bukan berarti memikul semua kesalahan sendirian. Ia berarti membedakan antara tanggung jawab dan penyesalan. Tanggung jawab memberi kekuatan untuk berubah. Penyesalan tanpa aksi hanya memperkuat rasa bersalah.
Dalam kehidupan sehari-hari, pola menyalahkan muncul dalam kalimat seperti: “Aku gagal karena orang lain tidak mendukung.” “Hidupku seperti ini karena masa laluku.” “Aku tidak bisa berubah karena situasi tidak memungkinkan.”
Kalimat-kalimat ini terdengar wajar, tetapi jika terus diulang, ia membentuk identitas korban. Dan identitas korban adalah lawan dari kebahagiaan. Sebab orang yang merasa tidak berdaya sulit merasakan damai.
Tahap kedua menuju bahagia adalah berhenti mencari siapa yang salah, dan mulai bertanya: “Apa yang bisa aku perbaiki dari sini?”
Perubahan tidak dimulai dari menunjuk keluar, tetapi dari melihat ke dalam. Dan keberanian melihat ke dalam adalah awal dari kedewasaan.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Menyalahkan Terasa Lega tapi Merusak?”
Kita akan membedah secara ilmiah dan spiritual mengapa kebiasaan menyalahkan terasa nyaman di awal, tetapi menghancurkan dalam jangka panjang.