Halaman 1 — Menangis Tanpa Menyerah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Dalam banyak budaya, tangisan anak sering dianggap sebagai tanda kegagalan pengasuhan—sesuatu yang harus segera dihentikan, ditekan, atau dialihkan. Namun dalam pola parenting Rusia, tangisan tidak diperlakukan sebagai musuh. Menangis dianggap manusiawi, wajar, bahkan perlu. Yang tidak diberi ruang adalah menyerah. Anak boleh merasa lelah, sedih, atau frustrasi, tetapi ia tidak dibiasakan berhenti di tengah jalan hanya karena emosi sedang memuncak.
Prinsip ini membedakan antara emosi dan keputusan. Rusia mengajarkan anak untuk mengakui perasaannya tanpa membiarkan perasaan itu mengambil alih arah hidup. Tangisan adalah ekspresi, bukan komando. Dengan pembedaan ini, anak belajar bahwa perasaan boleh datang dan pergi, tetapi tanggung jawab tetap harus diselesaikan. Ini bukan kekerasan emosional, melainkan pendidikan mental.
Dalam kajian psikologi perkembangan, pendekatan ini dikenal sebagai penguatan emotional resilience. Anak yang diizinkan menangis namun tetap diarahkan untuk melanjutkan usaha akan tumbuh dengan daya tahan tinggi terhadap tekanan. Ia tidak memendam emosi, tetapi juga tidak membiarkan emosi menguasai tindakannya. Rusia mempraktikkan keseimbangan ini secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang tua modern terjebak pada dua ekstrem: melarang tangisan sama sekali atau menuruti semua tuntutan demi menghentikan tangisan. Keduanya sama-sama berisiko. Yang pertama menekan emosi, yang kedua menormalisasi menyerah. Rusia memilih jalan tengah yang tegas namun manusiawi: emosi diakui, tetapi proses harus dilanjutkan.
Islam sendiri memandang kesedihan dan air mata sebagai bagian dari fitrah manusia. Namun Islam juga menekankan keteguhan dalam menjalani amanah hidup. Kesedihan tidak dilarang, tetapi putus asa tidak dibenarkan. Nilai inilah yang tanpa sadar dipraktikkan dalam parenting Rusia—bahkan tanpa label agama.
Lā taqnāṭū min raḥmatillāh.
Artinya: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini menegaskan bahwa perasaan sedih bukanlah dosa, tetapi keputusasaan adalah bahaya. Anak yang sejak kecil dilatih untuk menangis tanpa menyerah akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu bangkit setelah jatuh. Ia tidak menolak rasa sakit, tetapi juga tidak berhenti bergerak karenanya.
Halaman berikut (2/10):
“Mengenal Emosi Tanpa Tunduk Padanya.”
Kita akan membahas bagaimana anak Rusia diajarkan memahami perasaan tanpa dikendalikan olehnya.