Halaman 1 — Bukan Teknologinya Tapi Cara Manusia Menggunakannya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Setiap kali muncul teknologi baru, selalu ada ketakutan yang sama. Mesin dianggap menghilangkan kemanusiaan. Teknologi dituduh merusak moral. AI disebut biang kelelahan, kekacauan, bahkan hilangnya makna hidup. Namun pertanyaan penting jarang diajukan: apakah benar teknologi yang bermasalah, atau justru cara manusia memperlakukannya?
Sepanjang sejarah, pola ini terus berulang. Api pernah dianggap berbahaya, padahal ia menghangatkan dan menerangi. Pisau bisa melukai, tetapi juga menyiapkan makanan. Teknologi selalu netral. Ia hanya memperbesar apa yang sudah ada dalam diri manusia: niat, kesadaran, dan arah penggunaan.
Di era AI, kesalahan yang sama kembali terjadi. AI dipersalahkan karena membuat orang malas berpikir, kehilangan fokus, atau kelelahan mental. Padahal, AI hanyalah alat. Ia tidak punya kehendak. Ia tidak punya tujuan hidup. Manusialah yang menentukan apakah alat itu membangun atau merusak.
Masalah muncul ketika manusia menyerahkan kendali. Saat teknologi dipakai tanpa nilai, tanpa batas, dan tanpa kesadaran, dampaknya memang terasa berat. Tetapi ini bukan kegagalan teknologi — ini kegagalan kepemimpinan manusia atas alat yang ia ciptakan sendiri.
Al-Qur’an sejak awal sudah menempatkan manusia sebagai subjek, bukan korban alat. Allah berfirman:
Innā hadaynāhus-sabīla immā syākiran wa immā kafūrā.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insān [76]: 3)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia selalu diberi pilihan. Jalan sudah ada, alat sudah tersedia, tetapi sikap manusialah yang menentukan hasil akhirnya. Teknologi hanya mempercepat pilihan itu, bukan menciptakannya.
Maka artikel ini tidak akan membahas teknologi sebagai musuh. Kita akan membedah bagaimana kesalahan manusia dalam memposisikan teknologi membuat hidup terasa berat, dan bagaimana mengembalikannya ke peran yang seharusnya: sebagai alat bantu, bukan penentu nilai hidup.
Halaman berikut (2/10):
“Teknologi Selalu Netral, Nilailah yang Menentukan.”
Kita akan menelusuri
mengapa teknologi bersifat netral
dan bagaimana nilai manusia
menentukan dampaknya.