Halaman 1 — Terasa Alami tanpa Terlihat Diterjemahkan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Pernah membaca terjemahan yang terasa mengalir, seolah-olah memang ditulis dalam bahasa itu sejak awal? Tidak kaku, tidak terasa “asing”, dan tidak membuat pembaca berhenti hanya untuk mencerna struktur kalimatnya. Terjemahan seperti ini jarang, dan justru karena itulah ia terasa istimewa.
Sebaliknya, ada terjemahan yang secara makna benar, tetapi terasa berat dibaca. Kalimatnya panjang, susunannya terasa janggal, dan ritmenya tidak sesuai dengan kebiasaan bahasa pembaca. Kita paham maksudnya, tetapi tidak menikmatinya.
Perbedaan ini sering disalahpahami sebagai soal bakat atau selera. Padahal, di balik terjemahan yang enak dibaca selalu ada pola. Pola ini jarang disadari, bahkan oleh mereka yang sering menerjemahkan. Namun pola inilah yang membedakan terjemahan hidup dari terjemahan sekadar benar.
Banyak penerjemah pemula terlalu setia pada kata demi kata. Mereka takut “melenceng” dari teks asli. Akibatnya, yang lahir adalah kalimat yang secara teknis tepat, tetapi secara rasa tidak sampai. Padahal, pembaca tidak mencari kesetiaan literal, melainkan kejelasan dan kenyamanan.
Terjemahan yang baik tidak bekerja di level kata, melainkan di level makna dan struktur. Ia memahami bagaimana sebuah ide seharusnya diungkapkan dalam bahasa sasaran. Dari sinilah pola tersembunyi itu bekerja: memilih ulang urutan, menyesuaikan ritme, dan menyederhanakan tanpa menghilangkan maksud.
Menariknya, pola ini tidak eksklusif untuk bahasa tertentu. Ia berlaku universal. Penerjemah yang berpengalaman jarang bertanya “apa padanan katanya”, tetapi lebih sering bertanya “bagaimana orang normal akan mengucapkan ini”. Pertanyaan sederhana inilah yang mengubah hasil terjemahan secara drastis.
Wa mā arsalnā mir-rasūlin illā bilisāni qawmihī liyubayyina lahum.
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat menjelaskan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrāhīm [14]: 4)
Ayat ini menegaskan satu prinsip penting: pesan yang baik harus disampaikan dengan bahasa yang dipahami dan dirasakan. Bukan sekadar diterjemahkan, tetapi dijelaskan. Dan penjelasan selalu menuntut pola, bukan sekadar penggantian kata.
Maka, terjemahan yang enak dibaca bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari pola pikir tertentu yang bisa dipelajari dan dilatih. Pertanyaannya bukan lagi “apakah kamu berbakat menerjemahkan”, tetapi “apakah kamu memahami polanya”.
Halaman berikut (2/10):
“Masalah Terbesar Terjemahan: Terlalu Setia pada Kata.”
Kita akan mulai membongkar kesalahan paling umum
yang membuat terjemahan terasa kaku dan berat dibaca.