Halaman 1 — Luka yang Tidak Terlihat Antara Fakta dan Pilihan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi memengaruhi seluruh arah hidup seseorang. Ada peristiwa yang sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi dampaknya masih terasa setiap kali seseorang mencoba melangkah maju. Trauma itu nyata. Ia bukan imajinasi, bukan lebay, bukan kelemahan. Ia adalah respons psikologis terhadap pengalaman yang terlalu berat untuk diproses saat itu.
Namun di titik inilah perbedaan penting muncul: antara mengakui trauma dan menjadikannya identitas permanen. Banyak orang terjebak dalam narasi bahwa karena pernah disakiti, maka selamanya ia adalah korban. Karena pernah gagal, maka selamanya ia tidak layak. Karena pernah dipermalukan, maka harga dirinya telah hancur. Narasi ini perlahan berubah menjadi penjara mental.
Dalam kajian psikologi trauma, pengalaman menyakitkan memang dapat mengubah struktur respons emosi dan cara otak memproses ancaman. Individu menjadi lebih waspada, lebih defensif, bahkan kadang menutup diri. Ini adalah mekanisme bertahan hidup. Tetapi mekanisme bertahan hidup yang tidak diperbarui bisa berubah menjadi batasan pertumbuhan.
Masalahnya bukan pada luka itu sendiri, melainkan pada keputusan untuk berhenti di sana. Trauma adalah fakta masa lalu. Identitas adalah pilihan masa kini. Jika seseorang terus mendefinisikan dirinya melalui peristiwa terburuknya, ia memberikan kuasa permanen pada sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kesulitan bukan akhir dari cerita:
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā. Inna ma‘al-‘usri yusrā.
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ [94]: 5–6)
Ayat ini tidak menyangkal adanya kesulitan. Ia mengakui realitasnya. Tetapi ia juga menegaskan bahwa kesulitan bukan satu-satunya narasi yang berlaku. Di dalamnya selalu ada ruang untuk pemulihan dan pembaruan.
Trauma itu nyata. Ia bisa memengaruhi cara seseorang mencintai, mempercayai, bahkan bermimpi. Namun menjadi korban selamanya bukanlah satu-satunya pilihan yang tersedia. Ada fase di mana seseorang perlu mengakui luka. Tetapi ada juga fase ketika ia perlu bangkit dan berkata: “Aku pernah terluka, tetapi aku tidak akan selamanya terdefinisi oleh luka itu.”
Artikel ini tidak akan menyepelekan rasa sakit. Kita akan melihat trauma sebagai realitas psikologis yang perlu dipahami. Namun kita juga akan membedakan antara pengalaman pahit dan identitas permanen. Karena kamu boleh pernah menjadi korban. Tapi kamu tidak diciptakan untuk tinggal di sana selamanya.
Halaman berikut (2/10): “Apa Itu Trauma? Memahami Mekanisme Psikologisnya.”
Kita akan membedah trauma secara ilmiah agar kamu tidak lagi salah memahami dirimu sendiri.