Tuhan Bukan Mesin Pengabulan Keinginan

Halaman 1 — Antara Doa dan Keinginan Memahami Hakikat Hubungan dengan Tuhan


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.

Banyak orang mendekati Tuhan seperti mendekati mesin otomatis: masukkan doa, tekan tombol harapan, tunggu hasil keluar. Jika keinginan terkabul, iman terasa kuat. Jika tidak, muncul kecewa, bahkan marah dalam diam. Pola pikir ini tidak selalu disadari, tetapi ia hidup dalam ekspektasi yang tidak terucap.

Kita sering mengukur kedekatan dengan Tuhan berdasarkan seberapa cepat doa dijawab. Kita menilai kebaikan Ilahi dari seberapa sesuai realitas dengan keinginan pribadi. Padahal Tuhan bukanlah mesin pengabulan keinginan yang bekerja sesuai jadwal manusia.

Dalam relasi spiritual yang matang, doa bukanlah alat untuk memaksa takdir, tetapi sarana membentuk hati. Tuhan bukan pelayan ambisi manusia, melainkan Rabb yang membimbing pertumbuhan. Perbedaan ini mendasar. Jika tidak dipahami, seseorang mudah kecewa saat harapan tidak terpenuhi.

Wa rabbuka yakhluqu mā yasyā’u wa yakhtār.

Artinya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 68)

Ayat ini menegaskan bahwa pilihan akhir berada pada kehendak Tuhan. Manusia boleh berharap, boleh meminta, bahkan dianjurkan untuk berdoa. Namun keputusan tetap berada di tangan-Nya. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan harapan, tetapi untuk meluruskan sikap.

Dalam banyak kasus, doa yang tidak terkabul bukan tanda bahwa Tuhan menolak, melainkan tanda bahwa Tuhan mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Apa yang tampak baik belum tentu membawa kebaikan jangka panjang. Apa yang tertunda belum tentu ditolak.

Secara psikologis, ekspektasi yang tidak realistis terhadap Tuhan dapat menimbulkan spiritual frustration — kekecewaan religius yang lahir karena doa dianggap transaksi. Jika doa dipahami sebagai kontrak: “Aku beribadah, maka Engkau wajib mengabulkan,” maka relasi spiritual menjadi dangkal.

Artikel ini akan mengajak kita memahami ulang hakikat doa, takdir, dan hubungan dengan Tuhan. Bukan untuk melemahkan harapan, tetapi untuk memurnikannya. Karena Tuhan bukan mesin pengabulan keinginan. Dia adalah Pendidik jiwa.

Dan mungkin selama ini bukan Tuhan yang jauh dari kita, tetapi kita yang terlalu sibuk menuntut tanpa mau belajar memahami.


🌿 Tuhan bukan alat untuk memenuhi keinginanmu. Dia adalah Pembentuk dan Penuntun hidupmu.

Halaman berikut (2/10): “Ketika Doa Tidak Sesuai Harapan.”
Kita akan membahas mengapa doa yang tertunda bukan berarti ditolak.