Tuhan Nggak Jauh, Kamu yang Terlalu Sibuk

Halaman 1 — Kesibukan yang Mengaburkan Cahaya Saat Hati Kehilangan Arah


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Ada satu kalimat yang sering terucap pelan di sudut hati manusia modern: “Kenapa rasanya Tuhan jauh?” Kalimat ini muncul bukan karena iman hilang, tetapi karena hati terasa lelah. Doa tetap dipanjatkan, ibadah tetap dilakukan, namun ada ruang kosong yang tidak terisi. Seolah-olah langit tidak lagi sepeka dulu, seolah-olah Tuhan tidak sedekat yang pernah diyakini.

Namun sebelum kita menyimpulkan bahwa Tuhan menjauh, ada pertanyaan yang jauh lebih jujur untuk diajukan: apakah benar Tuhan yang jauh — atau kita yang terlalu sibuk? Dalam observasi kehidupan perkotaan dan studi pustaka mengenai pola hidup masyarakat modern, ditemukan bahwa mayoritas manusia hari ini hidup dalam ritme yang padat, cepat, dan nyaris tanpa jeda refleksi. Waktu untuk bekerja, mengejar target, membangun citra, dan memenuhi ekspektasi sosial jauh lebih dominan dibanding waktu untuk hening, tafakur, dan menyadari kehadiran Ilahi.

Kesibukan menciptakan ilusi produktivitas sebagai pusat makna hidup. Kita bangun dengan alarm, tidur dengan layar, dan mengisi jeda dengan distraksi. Notifikasi menjadi suara yang lebih sering kita dengar dibanding panggilan hati. Dalam kondisi seperti ini, spiritualitas bukan hilang — tetapi tertutup.

Wa laqad khalaqnal-insāna wa na‘lamu mā tuwaswisu bihi nafsuh, wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd.

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qāf [50]: 16)

Secara teologis, ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah berjarak secara eksistensial dari manusia. Kedekatan-Nya bukan fisik, melainkan kedekatan ilmu, perhatian, dan pengawasan. Maka jika ada rasa jauh, jarak itu bukan bersumber dari Tuhan — melainkan dari kesadaran manusia yang teralihkan.

Dalam perspektif psikologi perhatian (attention theory), apa yang terus-menerus menjadi fokus akan membentuk persepsi realitas. Jika perhatian kita dipenuhi angka, proyek, validasi sosial, dan ambisi tanpa jeda, maka ruang untuk merasakan Tuhan menjadi sempit. Bukan karena Dia tidak hadir, tetapi karena kita tidak memberi ruang untuk menyadari kehadiran-Nya.

Artikel ini disusun dengan pendekatan kajian pustaka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan refleksi empiris terhadap pola hidup kontemporer. Tesis utamanya sederhana namun mendalam: Tuhan tidak pernah jauh. Manusialah yang menumpuk jarak melalui kesibukan yang tak terarah. Jika hati terasa kering, mungkin yang perlu ditata bukan langit — tetapi ritme hidup kita sendiri.


🌿 Rasa jauh sering kali bukan tanda Tuhan menjauh, tetapi tanda hati terlalu penuh oleh hal-hal yang fana.

Halaman berikut (2/10): “Ilusi Jarak dalam Perspektif Tauhid.”
Kita akan membedah bagaimana konsep kedekatan Tuhan dijelaskan dalam tauhid serta bagaimana manusia menciptakan jarak melalui kelalaian.