Tuhan Nggak Pernah Telat, Kamu yang Nggak Sabar

Halaman 1 — Tentang Waktu dan Ketergesaan Belajar Melambatkan Hati


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Ada satu kalimat yang sering kita ucapkan ketika hidup terasa berat: “Kenapa belum juga dikabulkan?” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersembunyi satu asumsi besar — bahwa Tuhan seharusnya bekerja mengikuti jadwal kita. Kita menunggu hasil seperti menunggu notifikasi masuk. Kita mengukur doa dengan jam digital. Kita menghitung harapan dengan kalender.

Padahal, sejak kapan Sang Pencipta tunduk pada stopwatch ciptaan-Nya sendiri? Kita yang gelisah, lalu menyimpulkan Tuhan terlambat. Kita yang terburu-buru, lalu menilai takdir tidak responsif. Kita yang tidak sabar, lalu merasa langit terlalu diam.

Dalam kehidupan modern, semuanya serba cepat. Pesan terkirim dalam detik. Uang berpindah dalam hitungan menit. Makanan datang tanpa harus dimasak. Pola ini membentuk mentalitas instan. Tanpa sadar, kita membawa mentalitas itu ke dalam doa. Kita ingin jawaban cepat, perubahan cepat, solusi cepat. Kalau tidak cepat, kita mulai ragu.

Tetapi kehidupan tidak pernah dirancang untuk instan. Pertumbuhan butuh waktu. Pohon tidak berbuah sehari setelah ditanam. Otot tidak kuat setelah satu kali latihan. Kedewasaan tidak lahir dari satu pengalaman. Maka mengapa kita mengira takdir harus mengikuti kecepatan emosi kita?

Ada yang merasa doanya belum dijawab padahal ia baru berdoa beberapa minggu. Ada yang merasa hidupnya stagnan padahal prosesnya baru dimulai. Ada yang menganggap dirinya tertinggal hanya karena membandingkan garis waktunya dengan orang lain. Semua ini berakar pada satu hal: ketidaksabaran.

Fa inna ma‘al-‘usri yusrā, inna ma‘al-‘usri yusrā.

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ [94]: 5–6)

Ayat ini tidak mengatakan “setelah” kesulitan, tetapi “bersama” kesulitan. Artinya, ketika kita merasa tertunda, sebenarnya proses sedang berjalan. Kita hanya belum melihat hasilnya. Dan sering kali, ketergesaan membuat kita buta terhadap kemajuan kecil yang sebenarnya sudah terjadi.

Tuhan tidak pernah telat. Yang sering keliru adalah cara kita membaca waktu. Kita menganggap cepat selalu baik, dan lambat selalu buruk. Padahal banyak hal yang rusak karena terlalu cepat, dan banyak hal yang matang karena diberi waktu.

Mungkin masalahnya bukan pada langit yang diam, tetapi pada hati yang terlalu ribut. Bukan pada doa yang tak dijawab, tetapi pada ekspektasi yang terlalu sempit. Bukan pada takdir yang lambat, tetapi pada jiwa yang belum siap.

Artikel ini akan mengajak kita membaca ulang konsep waktu dalam kehidupan spiritual. Kita akan melihat bahwa keterlambatan yang kita rasakan bisa jadi adalah ketepatan versi Tuhan. Dan bisa jadi, yang perlu diubah bukan jadwal takdir — tetapi kesabaran diri.


🌿 Jika terasa lambat, mungkin bukan karena Tuhan terlambat — tetapi karena hatimu belum belajar menunggu.

Halaman berikut (2/10): “Logika Waktu Tuhan.”
Kita akan membahas bagaimana cara Allah mengatur waktu berbeda dari cara manusia memahaminya.