Halaman 1 — Mitos Bakat yang Terlalu Lama Dipercaya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang berhenti menulis bukan karena tidak punya ide, tetapi karena terlalu cepat menyimpulkan bahwa dirinya tidak berbakat. Mereka melihat tulisan orang lain tampak mengalir, terlihat rapi, dan terasa “mahal”, lalu menyimpulkan bahwa semua itu adalah hasil bakat bawaan. Kesimpulan ini terdengar wajar, tetapi sebenarnya menyesatkan.
Dalam dunia profesional, editor, klien, dan pembaca tidak pernah bertanya apakah seorang penulis berbakat atau tidak. Yang mereka tanyakan jauh lebih sederhana: apakah tulisan ini jelas, mudah dipahami, dan bisa langsung digunakan. Bakat tidak masuk dalam daftar penilaian, karena ia tidak bisa diukur, tidak bisa dijanjikan, dan tidak bisa diandalkan.
Ironisnya, mitos bakat justru sering menjadi penghambat terbesar kemajuan penulis. Orang yang merasa “tidak berbakat” enggan belajar teknik, sementara orang yang merasa “berbakat” sering menolak disiplin. Padahal, dunia menulis yang dibayar berdiri di atas teknik, bukan perasaan.
Tulisan yang dibayar bukan tulisan yang lahir dari inspirasi semata, tetapi tulisan yang dapat diulang kualitasnya. Jika kualitas tulisan hanya muncul ketika mood sedang bagus, maka ia tidak bernilai profesional. Dunia kerja membutuhkan kepastian, bukan keajaiban sesekali.
Artikel ini ditulis untuk membongkar kesalahpahaman mendasar tersebut. Bahwa menulis yang dibayar bukanlah soal bakat langka, melainkan soal teknik yang bisa dipelajari. Teknik yang membuat ide berpindah dari kepala penulis ke kepala pembaca tanpa tersesat di tengah jalan.
Laysa lil-insāni illā mā sa‘ā.
Artinya: “Manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. an-Najm [53]: 39)
Ayat ini menggeser fokus dari bakat ke usaha. Dalam menulis, usaha itu bernama teknik: cara menyusun ide, mengatur alur, memilih bahasa, dan menyunting tanpa kompromi. Tekniklah yang membuat tulisan bisa diandalkan dan dihargai.
Maka, sebelum bertanya apakah kamu berbakat atau tidak, pertanyaan yang lebih relevan adalah: teknik apa yang sudah kamu kuasai. Di sanalah garis pemisah antara tulisan yang sekadar ditulis dan tulisan yang benar-benar dibayar.
Halaman berikut (2/10):
“Kenapa Dunia Profesional Tidak Pernah Menanyakan Bakat.”