Tulisan Lo Bukan Jelek — Lo Cuma Salah Main Sistem

Halaman 1 — Bukan Soal Kualitas Tapi Salah Main Sistem


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.

Banyak orang berhenti menulis bukan karena tulisannya buruk, tapi karena tidak pernah mendapat pengakuan yang adil. Artikel dibaca, disimpan, bahkan dibagikan— tapi tidak menghasilkan apa-apa. Dari situ muncul kesimpulan yang keliru: “Tulisan gue jelek.”

Padahal dalam banyak kasus, masalahnya bukan kualitas tulisan, melainkan sistem tempat tulisan itu beredar. Sistem menentukan siapa yang terlihat, siapa yang dihargai, dan siapa yang tenggelam meski karyanya bernilai. Menulis tanpa memahami sistem sama seperti berdagang tanpa tahu di mana pasar berada.

Media sosial, blog gratisan, dan platform terbuka sering menciptakan ilusi kesempatan yang sama. Semua boleh menulis, semua boleh unggah. Namun di balik layar, ada algoritma, kepentingan bisnis, dan struktur distribusi yang tidak selalu berpihak pada kualitas. Di sinilah banyak penulis salah membaca keadaan.

Tulisan yang bagus bisa kalah oleh tulisan yang lebih sering muncul. Analisis yang dalam bisa tenggelam oleh konten yang lebih sensasional. Bukan karena publik bodoh, tapi karena sistem bekerja dengan logika sendiri. Jika penulis tidak memahami logika ini, ia akan terus merasa kalah tanpa tahu sebabnya.

Wa mā ūtītum minal-‘ilmi illā qalīlā.

Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 85)

Ayat ini mengingatkan keterbatasan manusia dalam memahami realitas. Banyak penulis menilai dirinya hanya dari respons permukaan, tanpa memahami sistem yang lebih besar. Akibatnya, evaluasi diri menjadi tidak adil.

Artikel ini mengajak pembaca berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai membaca sistem dengan jernih. Kita akan membedah bagaimana sistem bekerja, di mana letak kesalahan umum penulis, dan bagaimana memosisikan tulisan agar nilainya benar-benar sampai.

Al-mu’minul-qawiyyu khairun wa aḥabbu ilallāhi minal-mu’minid-ḍa‘īf.

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Kekuatan dalam hadis ini bukan hanya fisik, tetapi juga kekuatan memahami keadaan. Penulis yang memahami sistem lebih mampu menjaga nilai karyanya dibanding penulis yang hanya mengandalkan semangat.

Dari sini, kita mulai perjalanan yang berbeda. Bukan memperdebatkan bakat, tetapi memetakan sistem. Karena tulisan yang baik tidak butuh belas kasihan— ia hanya butuh tempat yang tepat.


🌿 Jangan buru-buru menilai tulisanmu. Bisa jadi yang salah bukan kualitasmu, tapi sistem tempat kamu bermain.

Halaman berikut (2/10): “Apa Itu Sistem dalam Dunia Tulisan?”
Kita akan mendefinisikan sistem yang sering tak disadari penulis.