Halaman 1 — Ujian dan Martabat Manusia Mengapa Kamu Tidak Diabaikan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Hampir semua manusia pernah merasa hidupnya berat. Ada fase di mana usaha gagal, relasi retak, finansial menurun, atau doa terasa lama dikabulkan. Pada titik itu, sebagian orang mulai meragukan dirinya sendiri. Mereka bertanya: “Mengapa hidupku lebih sulit dibanding orang lain?” Pertanyaan ini wajar. Namun dalam perspektif ilmiah dan teologis, kesulitan bukan indikator kegagalan. Ia adalah indikator proses.
Dalam pendekatan psikologi perkembangan, tekanan yang terukur justru menjadi variabel penting dalam pembentukan resiliensi. Individu yang tidak pernah menghadapi tantangan cenderung rapuh ketika menghadapi perubahan mendadak. Sebaliknya, mereka yang pernah jatuh, bangkit, dan belajar dari kegagalan memiliki struktur mental yang lebih kuat. Artinya, ujian bukan sekadar peristiwa emosional — ia adalah mekanisme pembentukan kapasitas.
Al-Qur’an sejak awal telah menetapkan bahwa ujian adalah bagian dari hukum kehidupan:
Wa lanabluwannakum bisyai’in minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn.
Artinya: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Kata “lanabluwannakum” menunjukkan kepastian. Ujian bukan kemungkinan — ia keniscayaan. Jika semua orang pasti diuji, maka pertanyaannya bukan lagi “mengapa aku diuji?” tetapi “apa yang sedang dibentuk dari diriku?”
Nabi juga menjelaskan prinsip ini:
Inna ‘iẓamal-jazā’i ma‘a ‘iẓamil-balā’, wa innallāha idzā aḥabba qauman ibtalāhum.
Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmiżi)
Ini mengubah total sudut pandang. Ujian bukan simbol ditolak — tetapi simbol diperhitungkan. Guru tidak memberikan soal sulit kepada murid yang tidak dianggap mampu. Pelatih tidak menambah beban pada atlet yang tidak punya potensi.
Maka bisa jadi kesulitan yang kamu alami hari ini bukan tanda hidupmu buruk. Justru sebaliknya — hidupmu dianggap bernilai. Kamu sedang dinaikkan kapasitasnya. Dan setiap kenaikan kapasitas selalu didahului oleh tekanan.
Halaman berikut (2/10): “Hukum Ujian dalam Perspektif Ilmiah dan Wahyu.”
Kita akan membedah mengapa tekanan adalah mekanisme pertumbuhan, bukan kebetulan.