Yang Menyakitimu Itu Kejadian, Yang Menghancurkanmu Itu Pikiranmu

Halaman 1 — Antara Fakta dan Tafsir Ketika Pikiran Mengambil Alih Luka


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Sebuah kejadian bisa berlangsung hanya beberapa menit. Sebuah kalimat mungkin hanya diucapkan dalam hitungan detik. Namun rasa sakitnya bisa bertahan bertahun-tahun. Mengapa durasi kejadian begitu singkat, tetapi dampaknya terasa panjang?

Dalam psikologi kognitif dijelaskan bahwa penderitaan bukan hanya lahir dari fakta, tetapi dari tafsir. Dua orang bisa mengalami kejadian sama, tetapi hanya satu yang hancur. Perbedaannya bukan pada kejadian, melainkan pada cara berpikir.

Inna Allāha lā yughayyiru mā biqaumin ḥattā yughayyirū mā bi anfusihim.

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan dimulai dari dalam. Jika tafsir negatif terus dipelihara, luka akan membesar. Tetapi jika cara berpikir diubah, pengalaman emosional ikut berubah.

🌿 Fakta hanya terjadi sekali. Pikiran bisa mengulangnya ribuan kali.